Skip to main content

Artikel Unggulan

Penumpang Julit...... Bawa Kabur Selimut Bus EKA

BUNYI TIT...TIT...TIT DI DASBOARD DEPAN" BUS EKA


Kurang lebih 2 bulan yang lalu terdengar kabar ada "laka" atau kecelakaan yang melibatkan bus EKA dan MIRA di daerah Ngawi, lantas disusul kecelakaan yang melibatkan armada bus EKA dengan truk di jalan TOL Ngawi Kertosono. Entah berapa korban yang timbul karena kecelakaan tersebut saya sendiri kurang mengetahuinya.

Mungkin akibat yang ditimbulkan kecelakaan tersebut membuat pihak manajemen PO EKA MIRA bertindak tegas dan membuat satu tindakan pengamanan agar peristiwa tersebut bisa diminimalisir ke depan. Di beberapa kesempatan terdahulu sebenarnya tindakan pengamanan dari pihak perusahaan otobus ini sempat saya rasakan namun tidak berlaku bagi semua bus. 
Bagi anda konsumen setia bus cepat ini tentu pernah mendengar bunyi semacam alarm TIT...TIT...TIT dari dasboard depan pengemudi, bunyi tersebut sempat saya dengar beberapa kali di beberapa kesempatan kurang lebih 2-3 tahun ke belakang. Namun kembali hilang di tahun tahun terakhir. Dan akhirnya muncul kembali di awal tahun 2019.


Sebenarnya dari awal saya mendengar bunyi tersebut saya sudah bisa mnebak bahwa itu berasal dari alat semacam LIMITER kecepatan sekaligus GPS pelacak yang memungkinkan pihak manajemen memantau kecepatan bus yang diawaki kru-nya selama perjalanan. Sekilas alat itu terlihat sederhana, yakni berupa display LED kecil seukuran 5x8 cm persis di posisi tengah dasboard depan bus.

Saya sendiri berkesempatan melihat kerja alat tersebut saat naik bus EKA Semarangan dari arah Solo saat masuk di jalan tol Tembalang. Kebetulan driver nya saya kenal dengan baik orangnya. Dari display LED tersebut terlihat jelas kecepatan bus aktual dan alarm akan menjerit TIT...TIT....TIT disaat kecepatan menyentuh angka 90 km/jam.


Sebenarnya driver bisa saja seenaknya membejek pedal gas tanpa menghiraukan alat tersebut, namun bunyi peringatan yang dikeluarkan alat tersebut menurut saya berisik sekali dan nyaring terdengar di kursi belakang sekalipun. Ini akan membuat kenyamanan penumpang menjadi terganggu jika alat tersebut terus mengeluarkan bunyi karena melewati ambang batas kecepatan yang diijinkan.

Peraturan perusahaan otobus ini memang untuk kebaikan semua pihak, namun dari beberapa respon kru bus yang saya temui hal ini juga agak sedikit menimbulkan dilema. Karena dengan limit kecepatan hanya 90 km/jam bisa dibayangkan bagaimana bus tersebut melaju di jalan tol yang bebas hambatan.

Saya selaku pengguna setia bus EKA sebenarnya setuju saja dengan peraturan pengelola bus karena untuk kebaikan penumpang, namun perlu dipertimbangkan lagi batas kecepatan yang diijinkan bagi para pengemudi untuk membejek pedal GAS mereka. Salam Satu Aspal........
 

Comments

Popular posts from this blog

Penumpang Julit...... Bawa Kabur Selimut Bus EKA

Selimut fasilitas bus EKA Menyambung artikel sebelumnya yakni trip report naik bus EKA dari Solo ke Purbalingga di akhir perjalanan ketika bus sudah memasuki wilayah kabupaten Purbalingga kondektur mulai membersihkan kursi dan merapikan kembali selimut selimut yang disediakan khusus bagi penumpang.  Setahu saya hanya armada bus EKA tertentu saja yang dilengkapi dengan fasilitas tambahan selimut. Selimut yang disediakan menurut saya cukup bagus dan menarik. Dengan warna menarik dan bahan lembut dan hangat tentu memancing "gairah nakal" tersendiri bagi oknum penumpang.  Ketika kondektur telah sampai di kursi bagian depan dia pun berkata kepada sang sopir. Pak selimute ilang siji maneh! Pak selimutnya hilang lagi satu. Kemudian saat kondektur kembali ke kursinya mulai terdengar percakapan mereka berdua mengenai hilangnya selimut tersebut. Sang kondektur sambar atau mengeluh ini adalah selimut kedua yang hilang dalam kurun satu bulan terakhir. Harga satu selimut itu lu

NAIK ANGKOT APA YA??? DARI STASIUN GUBENG KE TERMINAL BUNGURASIH

Stasiun Surabaya Gubeng Baru Bagi anda yang pertama kali datang ke kota Surabaya dengan menggunakan kereta api, anda harap perhatikan hal ini. Ada dua stasiun besar di Surabaya yakni, Stasiun Gubeng melayani jalur lintas Selatan dan Stasiun Pasar Turi yang melayani jalur lintas Utara.  JALUR LINTAS SELATAN kereta yang mengarah ke Banyuwangi, Malang, Kediri, dan Jakarta (lewat Madiun, Solo dan Jogjakarta), sedangkan  JALUR LINTAS UTARA  (kereta yang mengarah ke Lamongan, Babat, Bojonegoro, dan Jakarta (lewat Semarang).  Sejak tahun 2013 semua kereta api Ekonomi, Bisnis dan Ekskutif berjalan langsung di Stasiun Wonokromo alias tidak berhenti di Wonokromo lagi, jadi sekarang semua kereta api terakhir berhenti di Surabaya Gubeng. Ini jelas agak merepotkan apalagi bagi anda yang ingin melanjutkan perjalanan ke arah Sidoarjo atau ke terminal Bungurasih . Stasiun Surabaya Gubeng Lama Namun perlu anda tahu sebelumnya kenapa ada Stasiun Gubeng Baru dan Stasiun Guben

SMOKING ROOM di bandara Juanda

Smooking room di terminal 1 bandara Juanda  Area merokok di bandara Juanda Surabaya -  Tak mudah sekarang bagi para perokok mencari tempat yang nyaman untuk merokok, apalagi di bandara udara. Kenyataannya memang demikian, sebagai seorang perokok saya juga “Tahu Diri” untuk merokok di tempat yang telah disediakan. Nasib perokok, tambah terjepit karena ruang bebas merokok yang disediakan sangat sempit dan terbatas, padahal jumlah perokok yang berada di ruangan tersebut melebihi kapasitasnya. Kalo sudah demikian saya mesti mengalah daripada bisa “mati berdiri” terpanggang asap rokok hehehehe. Di postingan saya sebelumnya SMOKING ROOM di bandara Soekarno Hatta terminal 1 A, ternyata pihak bandara lebih bijak dengan menyediakan taman di tengah tengah gate sebagai area merokok. Ini tentunya lebih “manusiawi” karena para perokok termasuk saya bisa menikmati “hobby” tersebut dengan nyaman dan tidak tersiksa. Smoking pot di bandara Juanda Lain halnya dengan di bandara Juanda