Skip to main content

Artikel Unggulan

Penumpang Julit...... Bawa Kabur Selimut Bus EKA

MISTERI DIBALIK AIR PEMANDIAN JOLOTUNDO TRAWAS

Petirtaan Jolotundo Trawas

Akhir pekan lalu iseng-iseng kita sekeluarga kembali mengunjungi Pemandian Jolotundo Trawas, dari rumah di kawasan Krian letak tempat ini tidak terlalu jauh, hanya sekitar 45 menit perjalanan. Dari pusat kota Mojosari tempat ini hanya berjarak kurang lebih 12 kilometer versi dari petunjuk arah Google Map.

Jalanan hari Minggu itu tidak terlalu ramai, saya yang agak pelupa masalah arah jalan kembali mengandalkan aplikasi petunjuk arah di ponsel. Selepas dari kota Mojosari saya nyalakan aplikasi tersebut, dan syukurlah Map kali ini benar-benar akurat dan tak ingkar janji hehehehe.

Jalanan menuju lokasi komplek Candi sekaligus Pemandian Jolotundo ini tidak seberapa extrem, hanya saja sedikit menantang di akhir perjalanan. Setelah melewati lokasi PPLH Seloliman di sisi kiri jalan masuk, jalanan mulai menanjak beberapa puluh meter, untuk kemudian naik lagi dengan kemiringan yang lumayan setelah gapura masuk pertama, dan setelah itu kita akan sampai di lokasi parkir paling atas dekat pintu masuk pemandian.

Kolam ikan di dalam pemandian Jolotundo
Saya sarankan parkir di lokasi yang agak bawah jika kondisi sepeda motor dan mobil anda kurang fit, atau jika anda bukan pengemudi handal. Lebih baik berjaga-jaga daripada terjadi sesuatu pada kendaraan dan penumpang didalamnya. Seperti hari itu saya melihat sebuah bus besar dan beberapa angkot yang sudah berumur parkir di lokasi parkir bawah yang berada beberapa puluh meter sebelum gapura masuk pertama.

Sengaja saya datang kali ini hendak mengambil air dari mata air Pemandian Jolotundo yang kabarnya bisa memberikan manfaat kesehatan pada tubuh manusia. Hal ini berkaitan dengan kakak kandung saya yang kondisi kesehatannya menurun beberapa tahun terakhir ini. Berharap dengan ijin Allah SWT melalui air minum dari mata air di candi ini bisa memberikan sedikit perubahan pada kondisi tubuh kakak.

Jirigen berisi air dari petirtaan Jolotundo
Berbekal dua jirigen air berwarna putih seharga 10 ribu rupiah per bijinya yang saya beli di warung-warung sekitar parkir pemandian, saya meminta tolong pada putri saya Aak Ulil untuk naik ke bagian tengah candi yang kebetulan banyak "pancuran" air didalamnya. Dengan cekatan dia naik dari sisi kiri candi dan melintasi bagian pemandian khusus untuk wanita lalu naik lagi ke sisi tengah pemandian.

Aak pun tak lupa saya suruh mengambil air wudhu didalamnya untuk menghormati membersihkan diri dan menghormati tempat tersebut. Saya sempat juga melihat kondisi pemandian khusus untuk pria di sisi kanan candi. Kita harus melewati beberapa batuan besar yang agak licin untuk sampai ke tempat tersebut. Didalamnya ternyata ada satu buah pancuran mata air dengan kolam mandi didalamnya berukuran sekitar 2x1 meter saja. 

Nampak saat itu seorang pengunjung menyelesaikan ritual mandinya, saya yang tidak membawa baju ganti agak takut untuk turun ke dasar kolam yang nampak lumayan dalam walaupun dangkal kelihatannya. Saya urungkan niat setelah memastikan bahwa kolam tersebut agak dalam daripada celana berisi dompet dan HP saya basah.

Air dalam kolam kelihatan agak sedikit berbusa karena sabun dan shampo yang digunakan oleh pengunjung, padahal jelas-jelas ada larangan untuk memakai alat mandi tersebut saat mandi dalam kolam. Untung saja sirkulasi air dalam kolam tersebut bagus, sehingga sisa shampo dan sabun mandi tersebut cepat dibuang kembali dan air kolam akan kembali jernih.


Kembali ke masalah air dari Pemandian Jolotundo, bukan hanya saya yang membawa jirigen berisi air dari mata air tersebut. Pengunjung lain bahkan membawa galon air isi ulang yang cukup besar dan mengisi dengan air pemandian. Dari pembicaraan singkat dengan para pengunjung yang saya temui mereka berkata bahwa air dari mata air pemandian ini dapat membawa efek baik bagi kesehatan dan kecantikan. Kecantikan dalam hal ini air pemandian ini dipercaya bisa membuat "awet muda" bagi mereka yang rutin membasuh dan mandi di pemandian ini.

Dari beberapa artikel yang saya baca di internet mengenai khasiat air dari Pemandian Jolotundo ini memang mengatakan bahwa air dari sini masih murni dan belum terkontaminasi oleh pencemaran. Kadar oksigen dan mineral didalamnya tinggi sehingga baik dikonsumsi oleh tubuh.

Terlepas dari rumor mistis bahwa jika mandi dan minum air di pemandian ini bisa awet muda dan panjang umur, saya yang sempat merasakan air dari pemandian ini dan meminumnya langsung tanpa harus dimasak terlebih dahulu memang merasakan bahwa air tersebut benar benar murni bahkan lebih segar daripada air minum kemasan paling mahal sekalipun. 

Pantas saja banyak pengunjung membawa pulang air dari pemandian ini untuk konsumsi di rumah baik untuk kebutuhan air minum maupun sebagai "obat". Anda yang ingin merasakan air murni pegunungan datang saja ke tempat ini sekaligus berwisata sejarah dan alam.


Comments

Popular posts from this blog

Penumpang Julit...... Bawa Kabur Selimut Bus EKA

Selimut fasilitas bus EKA Menyambung artikel sebelumnya yakni trip report naik bus EKA dari Solo ke Purbalingga di akhir perjalanan ketika bus sudah memasuki wilayah kabupaten Purbalingga kondektur mulai membersihkan kursi dan merapikan kembali selimut selimut yang disediakan khusus bagi penumpang.  Setahu saya hanya armada bus EKA tertentu saja yang dilengkapi dengan fasilitas tambahan selimut. Selimut yang disediakan menurut saya cukup bagus dan menarik. Dengan warna menarik dan bahan lembut dan hangat tentu memancing "gairah nakal" tersendiri bagi oknum penumpang.  Ketika kondektur telah sampai di kursi bagian depan dia pun berkata kepada sang sopir. Pak selimute ilang siji maneh! Pak selimutnya hilang lagi satu. Kemudian saat kondektur kembali ke kursinya mulai terdengar percakapan mereka berdua mengenai hilangnya selimut tersebut. Sang kondektur sambar atau mengeluh ini adalah selimut kedua yang hilang dalam kurun satu bulan terakhir. Harga satu selimut itu lu

NAIK ANGKOT APA YA??? DARI STASIUN GUBENG KE TERMINAL BUNGURASIH

Stasiun Surabaya Gubeng Baru Bagi anda yang pertama kali datang ke kota Surabaya dengan menggunakan kereta api, anda harap perhatikan hal ini. Ada dua stasiun besar di Surabaya yakni, Stasiun Gubeng melayani jalur lintas Selatan dan Stasiun Pasar Turi yang melayani jalur lintas Utara.  JALUR LINTAS SELATAN kereta yang mengarah ke Banyuwangi, Malang, Kediri, dan Jakarta (lewat Madiun, Solo dan Jogjakarta), sedangkan  JALUR LINTAS UTARA  (kereta yang mengarah ke Lamongan, Babat, Bojonegoro, dan Jakarta (lewat Semarang).  Sejak tahun 2013 semua kereta api Ekonomi, Bisnis dan Ekskutif berjalan langsung di Stasiun Wonokromo alias tidak berhenti di Wonokromo lagi, jadi sekarang semua kereta api terakhir berhenti di Surabaya Gubeng. Ini jelas agak merepotkan apalagi bagi anda yang ingin melanjutkan perjalanan ke arah Sidoarjo atau ke terminal Bungurasih . Stasiun Surabaya Gubeng Lama Namun perlu anda tahu sebelumnya kenapa ada Stasiun Gubeng Baru dan Stasiun Guben

SMOKING ROOM di bandara Juanda

Smooking room di terminal 1 bandara Juanda  Area merokok di bandara Juanda Surabaya -  Tak mudah sekarang bagi para perokok mencari tempat yang nyaman untuk merokok, apalagi di bandara udara. Kenyataannya memang demikian, sebagai seorang perokok saya juga “Tahu Diri” untuk merokok di tempat yang telah disediakan. Nasib perokok, tambah terjepit karena ruang bebas merokok yang disediakan sangat sempit dan terbatas, padahal jumlah perokok yang berada di ruangan tersebut melebihi kapasitasnya. Kalo sudah demikian saya mesti mengalah daripada bisa “mati berdiri” terpanggang asap rokok hehehehe. Di postingan saya sebelumnya SMOKING ROOM di bandara Soekarno Hatta terminal 1 A, ternyata pihak bandara lebih bijak dengan menyediakan taman di tengah tengah gate sebagai area merokok. Ini tentunya lebih “manusiawi” karena para perokok termasuk saya bisa menikmati “hobby” tersebut dengan nyaman dan tidak tersiksa. Smoking pot di bandara Juanda Lain halnya dengan di bandara Juanda