Skip to main content

Artikel Unggulan

Penumpang Julit...... Bawa Kabur Selimut Bus EKA

MENYUSURI KEINDAHAN STALAKTIT DAN STALAGMIT DI GOA AKBAR TUBAN

Stalaktit di Goa Akbar Tuban
Beberapa hari yang lalu saya sempat berkeliling di beberapa obyek wisata di Kota Tuban. Kota Tuban terletak di utara propinsi Jawa Timur tepatnya di tepi pantai Utara Jawa berjarak kurang lebih 3 jam dari Surabaya melewati Gresik, Lamongan, Babat dan kota Tuban.

Salah satu obyek wisata yang sempat saya kunjungi adalah Goa Akbar selain Pantai Kelapa Panyuran dan Taman Lalu Lintas [Indahnya Nyiur Kelapa di Pantai Kelapa]. Berbekal Google Map saya sempat kesasar karena informasi dari map kurang jelas saya tangkap, akhirnya setelah berputar sekali akhirnya sampai juga di lokasi tujuan yang berada di dekat Pasar Baru Tuban. Hanya ada petunjuk berupa papan kecil di sisi kanan jalan yang bertuliskan Goa Akbar menyakinkan bahwa benar itu tempat tujuan saya.




Terletak di jalan masuk pasar yang cukup ramai mungkin bagi sebagian besar wisatawan akan ragu ragu untuk masuk, namun lambaian juru parkir dari kejauhan dan tulisan besar di gerbang masuk wisata meyakinkan saya bahwa benar itu tempatnya.

Lokasi parkir tepat di seberang jalan pintu masuk Goa, hanya mobil kecil dan minibus saja yang bisa masuk ke area tersebut. Sedangkan bus besar harus parkir di area lainnya. Setelah mobil terparkir Upik Abu segera menuju loket penjualan tiket di sisi kiri depan pintu masuk, ternyata HTM (Harga Tiket Masuk) Goa Akbar Tuban sebesar 5 ribu rupiah per orang, namun akan ada perubahan di awal tahun 2019 (Simak di Harga Tiket Masuk Goa Akbar Terbaru).



Parkir dan tiket parkir mobil Goa Akbar
Pintu masuk Goa Akbar ada di sisi paling kanan depan, ada penjaga yang mengecek tiket yang dipegang pengunjung. Wisata ini rupanya dikelola terpusat oleh Dinas terkait Pemerintah Kabupaten Tuban.

Di sisi kanan lorong masuk tepatnya di tembok terdapat Diorama yang menggambarkan sejarah kota Tuban dan Goa Akbar khususnya, saya kurang memperhatikan detailnya.




Di depan pintu masuk goa terdapat papan petunjuk dan peringatan, bahwa gua ini memiliki panjang rute sekitar 1.2 km dan bagi pengunjung yang memiliki penyakit asma dan gangguan pernapasan disarankan untuk tidak ikut menjelajahi gua.

Suasana masuk Goa diawal-awal masih mengasyikkan karena nafas masih kuat dan panjang, hamparan stalaktit di atas dinding gua, dinding yang basah karena tetesan air, cahaya temaram dari lampu penerangan goa serta kelelawar beterbangan menambah kesyahduan pengunjung yang menjelajah.

Jalanan berupa tangga naik dan turun licin akibat tetesan air, maklum karena musim penghujan mungkin saja akan sedikit berkurang jika musim kemarau saat masuk dan menjelajah ke dalam goa ini. Kewaspadaan dan kehati-harian wajib diperhatikan para pengunjung tentu saja dengan memperhatikan peringatan tertentu yang dipasang oleh pihak pengelola, semisal dilarang berteriak-teriak, dilarang berbicara kotor, dilarang berbalik arah dll.






Menjelang pertengahan rute, bau Guano atau kotoran kelelawar semakin menjadi-jadi maklum kotoran tersebut basah karena tetesan air. Dari sumber yang pernah saya baca kotoran kelelawar adalah berupa amonia yang bagus untuk pupuk organik tanaman bahkan lebih bagus dari bahan yang lain. Bau nya memang menyengat seperti bau amoniak.

Upik Abu sudah tak kuat menggendong si bungsu yang mulai rewel belum lagi terkuras habis karena menaik turuni anak tangga ditambah menghirup udara bercampur bau Guano yang menyengat. Akhirnya giliran saya menggendong si bontot di sisi perjalanan. 

Untung saja sisa perjalanan hanya kurang beberapa ratus meter saja, karena di sisi lain gua sudah terlihat terang cahaya matahari menerobos dari atas. Udara yang pengap berganti dengan udara segar dari balik mulut goa diatas. Syukur Alhamdulillah kita bertiga bisa selamat dan sampai di pintu keluar gua yang lain. 

Setelah keluar dari Goa rupanya dibagian yang lain terdapat deretan lapak lapak penjual oleh oleh berupa suvenir dan baju baju khas bertuliskan Goa Akbar dan pernak pernik yang lain.

Overall worthed liburan kali ini, berkeliling 3 obyek wisata dalam waktu setengah hari saja yakni di Pantai Kelapa, Goa Akbar dan Taman Lalu Lintas Kota Tuban. Untuk penilaian saya kasih nilai 6.5 dari maksimal 10 wisata Goa Akbar Tuban ini. Sampai jumpa di liburan berikutnya sobat....


Tags:

# Wisata Goa Akbar Tuban
# Harga Tiket Masuk Goa Akbar
# Letak Goa Akbar
# Parkir bus di Goa Akbar
# Wisata Pantai Kelapa Tuban

Comments

Popular posts from this blog

Penumpang Julit...... Bawa Kabur Selimut Bus EKA

Selimut fasilitas bus EKA Menyambung artikel sebelumnya yakni trip report naik bus EKA dari Solo ke Purbalingga di akhir perjalanan ketika bus sudah memasuki wilayah kabupaten Purbalingga kondektur mulai membersihkan kursi dan merapikan kembali selimut selimut yang disediakan khusus bagi penumpang.  Setahu saya hanya armada bus EKA tertentu saja yang dilengkapi dengan fasilitas tambahan selimut. Selimut yang disediakan menurut saya cukup bagus dan menarik. Dengan warna menarik dan bahan lembut dan hangat tentu memancing "gairah nakal" tersendiri bagi oknum penumpang.  Ketika kondektur telah sampai di kursi bagian depan dia pun berkata kepada sang sopir. Pak selimute ilang siji maneh! Pak selimutnya hilang lagi satu. Kemudian saat kondektur kembali ke kursinya mulai terdengar percakapan mereka berdua mengenai hilangnya selimut tersebut. Sang kondektur sambar atau mengeluh ini adalah selimut kedua yang hilang dalam kurun satu bulan terakhir. Harga satu selimut itu lu

NAIK ANGKOT APA YA??? DARI STASIUN GUBENG KE TERMINAL BUNGURASIH

Stasiun Surabaya Gubeng Baru Bagi anda yang pertama kali datang ke kota Surabaya dengan menggunakan kereta api, anda harap perhatikan hal ini. Ada dua stasiun besar di Surabaya yakni, Stasiun Gubeng melayani jalur lintas Selatan dan Stasiun Pasar Turi yang melayani jalur lintas Utara.  JALUR LINTAS SELATAN kereta yang mengarah ke Banyuwangi, Malang, Kediri, dan Jakarta (lewat Madiun, Solo dan Jogjakarta), sedangkan  JALUR LINTAS UTARA  (kereta yang mengarah ke Lamongan, Babat, Bojonegoro, dan Jakarta (lewat Semarang).  Sejak tahun 2013 semua kereta api Ekonomi, Bisnis dan Ekskutif berjalan langsung di Stasiun Wonokromo alias tidak berhenti di Wonokromo lagi, jadi sekarang semua kereta api terakhir berhenti di Surabaya Gubeng. Ini jelas agak merepotkan apalagi bagi anda yang ingin melanjutkan perjalanan ke arah Sidoarjo atau ke terminal Bungurasih . Stasiun Surabaya Gubeng Lama Namun perlu anda tahu sebelumnya kenapa ada Stasiun Gubeng Baru dan Stasiun Guben

SMOKING ROOM di bandara Juanda

Smooking room di terminal 1 bandara Juanda  Area merokok di bandara Juanda Surabaya -  Tak mudah sekarang bagi para perokok mencari tempat yang nyaman untuk merokok, apalagi di bandara udara. Kenyataannya memang demikian, sebagai seorang perokok saya juga “Tahu Diri” untuk merokok di tempat yang telah disediakan. Nasib perokok, tambah terjepit karena ruang bebas merokok yang disediakan sangat sempit dan terbatas, padahal jumlah perokok yang berada di ruangan tersebut melebihi kapasitasnya. Kalo sudah demikian saya mesti mengalah daripada bisa “mati berdiri” terpanggang asap rokok hehehehe. Di postingan saya sebelumnya SMOKING ROOM di bandara Soekarno Hatta terminal 1 A, ternyata pihak bandara lebih bijak dengan menyediakan taman di tengah tengah gate sebagai area merokok. Ini tentunya lebih “manusiawi” karena para perokok termasuk saya bisa menikmati “hobby” tersebut dengan nyaman dan tidak tersiksa. Smoking pot di bandara Juanda Lain halnya dengan di bandara Juanda