Skip to main content

Artikel Unggulan

Penumpang Julit...... Bawa Kabur Selimut Bus EKA

NGEMPER DI ALUN ALUN KOTA WISATA BATU

Bianglala Raksasa di Alun Alun Kota Wisata Batu
Sebelum meninggalkan kota Batu sehabis liburan sehari semalam, Aak rupanya masih belum puas sebelum mengunjungi Alun alun kota tersebut. Sehabis sarapan pagi dengan menu seadanya di Hotel Surya Indah di daerah Oro Oro Ombo berbekal Google Map kita berempat meluncur menuju alun-alun yang berjarak kurang lebih 7 kilometer saja.

Sempat melewati kembali BNS, Jatim Park 2, dan Museum Angkut kita menyusuri jalanan kota Batu yang relatif masih lengang pagi itu. Kurang dari 20 menit akhirnya kita tiba di Alun Alun Batu. [Wahana Permainan di Batu Night Spectacular]


Pasar Laron Kota Batu
Nampak di sisi kiri alun alun tempat parkir mobil yang relatif masih sepi, hanya ada beberapa mobil parkir di tempat itu. Di sisi kanan terdapat pasar Latin tempat lapak pedagang makanan dan oleh oleh berkumpul, sedangkan di seberang terdapat Plaza Batu dan Masjid.

Di tiap sudut taman kota tersebut terdapat replika buah Apel besar, patung kelinci, air mancur dan kolam ikan serta yang menjadi ikon khasnya yakni Bianglala raksasa.


Pagi itu ternyata satu satunya wahana permainan telah dibuka dan dioperasikan, ada satu loket pembelian sedang melayani pengunjung yang ingin naik komedi putar raksasa tersebut. Entah berapa harga tiket naik Bianglala tersebut saya tidak sempat mengamatinya.

Saya tawarkan pada Aak dan si kecil untuk naik namun mereka berdua tidak mau dengan alasan takut, saya sendiri tidak sempat mengelilingi taman kota tersebut karena harus mencari Bank terlebih dahulu untuk urusan transfer uang ke klien.

Skip...skip setelah beberapa saat saya tinggal ke bank yang ada di perempatan jalan Imam Bonjol dekat alun alun, Upik Abu menelepon apakah urusan di bank sudah selesai. Saya bilang sudah dan hendak kembali ke taman. Sekembalinya ke taman saya berputar putar mencari keberadaan keluarga saya, namun tak nampak batang hidungnya. 

Saya akhirnya duduk di sisi kanan alun alun di bawah kanopi dekat dengan pasar Laron Batu, saya amati banyak pedagang kaki lima berjualan pentil, sosis bakar dan makanan ringan lainnya.




Saya coba telpon kembali Upik Abu namun tak terangkat, saya coba telpon Aak dan rupanya terangkat, dia hanya bilang tahu posisi saya dan disuruh tunggu di kanopi yang mirip halte bus tersebut. Mereka bertiga akhirnya menghampiri saya setelah membeli 2 buah sosis bakar besar, satu tusuk sosis besar bakar tersebut dihargai 15 ribu untuk yang original sementara yang campur keju 20 ribu rupiah, cukup mahal wkwkwkw.

Setelah menghabiskan sosis bakar mahal tersebut, Upik Abu mengajak ke Plaza Batu yang terletak persis di seberang alun alun, nampak MALL yang sudah berumur. Saya sendiri dari jauh sebenarnya sudah tak ingin ke tempat tersebut, tapi Upik Abu tetap memaksa, dan benar saja sesampainya disana ternyata Mall tersebut tidak menarik perhatian kita untuk berbelanja didalamnya.

Kita segera berlalu dan bersiap-siap meninggalkan kota Batu dan liburan akhir tahun kali ini.

Tags:
# Wahana di BNS
# Tiket masuk BNS Batu
# Jatim Park 2 dan Eco Green Park
# Tiket masuk Jatim Park 2
# Hotel dekat BNS dan Jatim Park 2

Comments

Popular posts from this blog

Penumpang Julit...... Bawa Kabur Selimut Bus EKA

Selimut fasilitas bus EKA Menyambung artikel sebelumnya yakni trip report naik bus EKA dari Solo ke Purbalingga di akhir perjalanan ketika bus sudah memasuki wilayah kabupaten Purbalingga kondektur mulai membersihkan kursi dan merapikan kembali selimut selimut yang disediakan khusus bagi penumpang.  Setahu saya hanya armada bus EKA tertentu saja yang dilengkapi dengan fasilitas tambahan selimut. Selimut yang disediakan menurut saya cukup bagus dan menarik. Dengan warna menarik dan bahan lembut dan hangat tentu memancing "gairah nakal" tersendiri bagi oknum penumpang.  Ketika kondektur telah sampai di kursi bagian depan dia pun berkata kepada sang sopir. Pak selimute ilang siji maneh! Pak selimutnya hilang lagi satu. Kemudian saat kondektur kembali ke kursinya mulai terdengar percakapan mereka berdua mengenai hilangnya selimut tersebut. Sang kondektur sambar atau mengeluh ini adalah selimut kedua yang hilang dalam kurun satu bulan terakhir. Harga satu selimut itu lu

NAIK ANGKOT APA YA??? DARI STASIUN GUBENG KE TERMINAL BUNGURASIH

Stasiun Surabaya Gubeng Baru Bagi anda yang pertama kali datang ke kota Surabaya dengan menggunakan kereta api, anda harap perhatikan hal ini. Ada dua stasiun besar di Surabaya yakni, Stasiun Gubeng melayani jalur lintas Selatan dan Stasiun Pasar Turi yang melayani jalur lintas Utara.  JALUR LINTAS SELATAN kereta yang mengarah ke Banyuwangi, Malang, Kediri, dan Jakarta (lewat Madiun, Solo dan Jogjakarta), sedangkan  JALUR LINTAS UTARA  (kereta yang mengarah ke Lamongan, Babat, Bojonegoro, dan Jakarta (lewat Semarang).  Sejak tahun 2013 semua kereta api Ekonomi, Bisnis dan Ekskutif berjalan langsung di Stasiun Wonokromo alias tidak berhenti di Wonokromo lagi, jadi sekarang semua kereta api terakhir berhenti di Surabaya Gubeng. Ini jelas agak merepotkan apalagi bagi anda yang ingin melanjutkan perjalanan ke arah Sidoarjo atau ke terminal Bungurasih . Stasiun Surabaya Gubeng Lama Namun perlu anda tahu sebelumnya kenapa ada Stasiun Gubeng Baru dan Stasiun Guben

SMOKING ROOM di bandara Juanda

Smooking room di terminal 1 bandara Juanda  Area merokok di bandara Juanda Surabaya -  Tak mudah sekarang bagi para perokok mencari tempat yang nyaman untuk merokok, apalagi di bandara udara. Kenyataannya memang demikian, sebagai seorang perokok saya juga “Tahu Diri” untuk merokok di tempat yang telah disediakan. Nasib perokok, tambah terjepit karena ruang bebas merokok yang disediakan sangat sempit dan terbatas, padahal jumlah perokok yang berada di ruangan tersebut melebihi kapasitasnya. Kalo sudah demikian saya mesti mengalah daripada bisa “mati berdiri” terpanggang asap rokok hehehehe. Di postingan saya sebelumnya SMOKING ROOM di bandara Soekarno Hatta terminal 1 A, ternyata pihak bandara lebih bijak dengan menyediakan taman di tengah tengah gate sebagai area merokok. Ini tentunya lebih “manusiawi” karena para perokok termasuk saya bisa menikmati “hobby” tersebut dengan nyaman dan tidak tersiksa. Smoking pot di bandara Juanda Lain halnya dengan di bandara Juanda