Facebook

Jalan Jalan Ke Pantai Kenjeran Surabaya

Pantai Kenjeran Surabaya

Sudah lama saya tidak menelusuri daerah tempat tumbuh dan dibesarkan. Rumah orang tua saya sebenarnya agak jauh dari Kenjeran. Sebuah nama tempat yang cukup populer bagi warga Surabaya dan sekitarnya. Berjarak kurang lebih 5 kilometer dari pantai Kenjeran,  rumah dan area perkampungan saya dulu dan sekarang masih dalam lingkup kecamatan Kenjeran.

Perubahan tak banyak terjadi di daerah tempat saya dulu dibesarkan,  daerah sekitar Pogot waktu saya terakhir tinggal di sana sekitar tahun 2010 masih saja ruwet dan tak tertata rapi,  lapak-lapak pedagang buah,  makanan,  toko-toko, bahkan pengepul barang bekas memenuhi pinggir jalan, saya tak tahu persis blue print pembangunan kota. Apakah pinggir jalan tersebut akan diperluas menjadi jalan protokol kedepannya.

Namun dengan dibiarkannya bangunan-bangunan liar tumbuh dan dijadikan tempat usaha menjadikan daerah sekitar tidak teratur dan menjadi sumber kemacetan di saat jam-jam sibuk. Saya sebenarnya malas membahas masalah tersebut karena seolah tak tersentuh oleh pemerintah kota. Surabaya memang pesat sekali dalam pembangunan infrastrukturnya dan berbagai sarana penunjang kehidupan warganya.

Namun jika anda berkesempatan masuk ke kampung kampung di sekitar daerah Surabaya Utara,  anda akan mendapati atmosfer yang berbeda. Badan trotoar yang diperuntukkan pejalan kaki,  ditempati lapak lapak dagangan. Belum lagi kebiasaan warga yang seenaknya memarkir kendaraannya di tepi jalan, baik itu roda empat maupun roda dua.Untuk lebih jelasnya silahkan baca di artikel selanjutnya "Berawal dari Jemuran"

Kembali lagi ke topik awal,  jalan jalan ke Pantai Kenjeran. Dari rumah almarhum ortu yang kini didiami kakak tertua, saya pacu motor matic mungil melewati jalan Pogot kemudian belok ke kiri ke jalan Raya Kedung Cowek yang merupakan akses utama ke jembatan Suramadu,  tak jauh dari belokan ada akses U turn atau putar balik ke arah jalan Kenjeran.

Saya ambil langsung jalur kiri setelah SPBU ada gang di sisi kiri jalan yang merupakan jalan tembusan ke pantai Kenjeran. Entah apa nama jalan tersebut saya sendiri  sampai lupa,  namun jelasnya kawasan di sekitarnya adalah daerah Bogorami. Saya ikuyi jalanan itu yang pasti ambil saja arah yang ke kiri dari jalan utama jika ada belokan. Sekitar 2 kilometer berikutnya anda sudah sampai di daerah Nambangan.

Daerah itu kini banyak berubah, dulu masih sepi sekali cenderung rawan untuk dilewati kini sudah banyak berdiri pemukiman penduduk. Saat tahun 90 an saya seringkali pergi dengan teman teman kampung bersepeda ke tempat ini untuk sekedar memancing ikan dan berenang di pinggir pantai Kenjeran.

Dahulu masih banyak terdapat tambak ikan di daerah Nambangan dan sekitarnya, pohon pohon bakau, burung angsa,  ikan endemis penghuni bakau seperti ikan glodokan banyak terdapat di situ.

Kini setelah hampir 30 tahun lebih,  wajah asri dan rindang Kenjeran dan sekitarnya hilang sudah. Yang ada hanya pemukiman baru penduduk di sisi kanan dan kiri jalan. Saya agak sedikit terkejut saat sampai di ujung jalan Nambangan yang mendekati bibir pantai Kenjeran. Beberapa bulan tak melewati wilayah tersebut kini sudah berubah menjadi dua buah taman cantik tepat di sisi yang berhadapan. Yakni taman Bulak dan Taman Surabaya.

Taman Bulak
Taman Suroboyo
Siang hari itu taman Bulak lumayan banyak dikunjungi warga Surabaya atau mungkin hanya penduduk sekitar Bulak dan Kenjeran, ada yang bermain, berfoto foto dan juga nge VLOG. Motor saya kebetulan saya parkir di bawah pohon rindang di tepi jalan, ternyata disediakan lahan parkir yang lumayan luas di sisi kiri dan depan taman.

Saya lanjutkan perjalanan menyusuri jalan tepi pantai Kenjeran yang bagian tepinya dipagari besi anyam. Nampak beberapa pengunjung di area dalam tepi pantai, mereka asyik duduk duduk di batu-batu penahan pantai dibawah rindangnya pepohonan yang ada. Rupanya ada bagian pagar yang dibuka sehingga mereka bisa masuk ke dalam.

Sementara motor mereka di parkir di tepi jalan yang ruasnya tak terlalu lebar bahkan sempit menurut saya. Nampak laut di selat Madura dalam kondisi pasang di sisi utara pemukiman nelayan Bulak terlihat jelas begitu pula jembatan Suramadu dari kejauhan. Kapal kapal nelayan sedang lego jangkar di tepi pantai.

Dari kejauhan terlihat tepian pantai yang kotor dan kumuh tak seperti beberapa puluh tahun yang lalu saat saya masih kecil,  kita masih bisa berenang di tepiannya,  mencari keong dan rumah siput laut di tepian pantai Kenjeran. Dahulu tepian pantai masih berwarna putih karena serpihan cangkang keong dan hewan laut lainnya, kini hanya sampah-sampah yang terlihat terbawa arus ke tepian pantai.

Upik Abu tak mau meluangkan banyak waktunya disini,  kepanasan katanya, motor saya pacu menuju pantai kenjeran baru,  di sepanjang jalan dekat perkampungan nelayan banyak lapak-lapak pedagang hasil tangkapan laut berupa, ikan bakar,  kerang,  ikan asin dll. Lucunya ikan gurame dan mujair asap dijual juga disitu,  padahal keduanya bukan ikan laut.

Lapak pedagang ikan dan hasil laut di Kenjeran
Kita berhenti di salah satu lapak,  sebenarnya saya ingin ikan Pe asap atau pari asap, namun Upik Abu keberatan karena baunya yang Pesing menghilangkan selera makannya. Memang benar demikian ikan pari asap berbau agak pesing meski sudah diasap tergantung nanti cara kita memasaknya untuk menghilangkan bau tersebut. Daging ikan tersebut relatif tidak mempunyai duri, maklum saja ikan pari termasuk mamalia laut karena berkembang biak dengan melahirkan "kalau tidak salah".

Upik Abu akhirnya memilih mujair asap dan ikan asin mentah untuk santapan berbuka nanti sore. Sebiji mujair asap dihargai 15 ribu rupiah dan satu ons ikan asin bulu dihargai 10 ribu rupiah. Hari semakin siang,  Upik Abu rupanya masih ada satu keinginan lagi,  yakni membeli Oleh-oleh khas Kenjeran, yakni beraneka ragam krupuk ikan. Simak artikelnya yang akan datang.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Tolong biasakan komentar yang baik setelah membaca, saya akan balas jika pertanyaan sesuai topik. Dan tolong jangan meninggalkan link aktif atau Spam. Terima kasih