APA SAJA KERETA API EKONOMI DARI JAKARTA KE SURABAYA

Kereta Api Ekonomi Kertajaya berangkat dari Stasiun Surabaya Pasar Turi

Merantau ke ibukota selama lebih dari lima tahun memberi saya pengalaman lebih dalam segala hal.  Mengurus semuanya sendiri, bertemu dengan banyak tipikal orang selama hidup di Jakarta dan juga selama di perjalanan. 

Walaupun tidak setiap minggu saya pulang ke Surabaya,  namun setidaknya sebulan sekali rutin mengunjungi keluarga. Dengan gaji yang pas pasan tentunya dibutuhkan trik agar uang kita cukup untuk keluarga dan kebutuhan saya sendiri. 

Tiket kereta api bisa dibilang lebih murah daripada tiket bus apalagi pesawat terbang. Namun untuk naik kereta api sejak tahun 2012 tidak semudah tahun sebelumnya karena kita harus booking jauh jauh hari sebelumnya dan tidak bisa ambil resiko membeli tiket go show atau di calo. Saya memilih tidak pulang jika memang tidak memiliki tiket daripada harus memilih naik bus yang lama perjalanannya tidak bisa saya tebak.  

Pengalaman saya terakhir naik bus dari Solo ke Jakarta hampir 14 jam,  bisa anda bayangkan kalau dari Surabaya ke Jakarta dan sebaliknya.

Dibandingkan dengan kereta api kelas ekonomi waktu tempuh kedua tempat diatas paling lama 14 jam, itupun kalau pas molor-molornya, sekarang dengan banyak perbaikan dan perubahan di dunia perkeretaapian Indonesia jarak tempuh Jakarta Surabaya hanya memakan waktu 12 jam untuk kelas ekonomi. 


Kereta api kelas ekonomi yang beroperasi melayani rute Jakarta Surabaya adalah KA Kertajaya dan KA Gaya Baru Malam Selatan

Saya akan memberikan penjelasan singkat tentang kedua kereta api ini ditinjau dari pengalaman saya selama melakukan perjalanan diatasnya.

KA Kertajaya berhenti di Stasiun Tegal

1. KA Kertajaya 

Kereta api kelas ekonomi AC ini merupakan favorit untuk para penumpang di jalur utara pantai Jawa seperti Ngrombo,  Cepu, Bojonegoro, Babat,  Lamongan dan Surabaya yang hendak pergi menuju ibukota. 

Kereta ini merupakan kereta api kelas ekonomi yang bersubsidi (PSO) namun jika dalam beberapa waktu subsidi habis maka harga tiket akan menjadi lebih mahal. Untuk bulan Februari 2017 harga tiket kereta Kertajaya sebesar 150 ribu rupiah. Kereta ini sekarang merupakan kereta penumpang dengan jumlah gerbong paling banyak dalam satu rangkaian yakni 14 gerbong. Orang sering menyebutnya kereta Keranjang atau Kertajaya Gerbong Panjang. 

Jam berangkat kereta Kertajaya ini adalah:
St Senen Jakarta 14.00 
St Pasar Turi Surabaya 01.30
dan sebaliknya 
St Pasar Turi Surabaya 21.00
St Senen Jakarta 08.23

Dengan beberapa stasiun persinggahan seperti Lamongan,  Babat, Bojonegoro, Cepu, Randublatung,  Ngrombo,  Semarang Tawang, Pekalongan, Tegal, Cirebon Prujakan dan Stasiun Pasar Senen. 

Tiket kereta ini terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun,  dari harga 42.500, 60.000, 90.000, 125.000 dan sekarang 150.000.
Namun kereta ini tak pernah sepi dari penumpang apalagi di akhir pekan dan liburan.

2. KA Gaya Baru Malam Selatan 

Kereta api kelas ekonomi AC ini merupakan favorit untuk para penumpang di jalur tengah seperti Mojokerto, Jombang,  Madiun, Solo,  Jogja,  Kebumen, Purwokerto.

Kereta ini merupakan kereta api kelas ekonomi yang bersubsidi (PSO) namun jika dalam beberapa waktu subsidi habis maka harga tiket akan menjadi lebih mahal. Namun sejauh pengalaman saya harga tiket kereta ini relatif stabil dan tidak terlalu mahal dibanding KA Kertajaya. Untuk bulan Februari harga tiket kereta ini dari Jakarta ke Surabaya adalah 104 ribu rupiah

Jam berangkat kereta Gaya Baru Malam Selatan ini adalah:
St Senen Jakarta 10.20 
St Gubeng Surabaya 01.30
dan sebaliknya 
St Gubeng Surabaya 12.00
St Senen Jakarta 01.48

Dengan beberapa stasiun persinggahan seperti Mojokerto, Jombang, Madiun, Sragen, Solo,  Jogjakarta, Kutoarjo, Purwokerto, dan terakhir di Stasiun Pasar Senen Jakarta.

Kini tinggal anda sendiri yang memutuskan ingin menggunakan kereta api yang mana.  Anda bisa mengira ngira sendiri kereta mana yang sesuai untuk kebutuhan anda,  yang pasti kereta api ekonomi sekarang bisa dibilang nyaman dan aman.


2. KA Jayabaya

Kereta api kelas ekonomi AC plus ini memiliki konfigurasi tempat duduk 2-2, atau 2 kanan dan 2 kiri. Untuk gerbong standar berkapasitas 80 tempat duduk sedangkan gerbong untuk difabel 64 tempat duduk.

Harga tiket kereta ini dari Jakarta ke Surabaya adalah 260 ribu rupiah lumayan mahal untuk kelas ekonomi dengan bangku yang masih tegak dan bukan reclining seat.

Jam berangkat kereta Jayabaya ini adalah:
St Senen Jakarta 13.00
St Malang 02.42
dan sebaliknya 
St Malang 11.45
St Senen Jakarta 01.34

Kereta ini akan melintasi jalur Utara pulau Jawa dan berhenti sejenak di stasiun Surabaya Pasar Turi dan Surabaya Gubeng.

INCIP-INCIP AYAM GEPREK MBOK JUDES

Warung Ayam Geprek Mbok Judes di daerah Driyorejo Gresik

Saya dan keluarga bukanlah tipikal orang senang yang makan di luar.  Di samping karena penghematan budget juga dikarenakan si kecil tidak begitu suka dengan makanan yang tidak dimasak oleh ibunya sendiri. 

Namun sesekali kita juga makan di luar jika pergi ke Mall hanya sekedar untuk mengisi perut sambil membuat catatan atau review tentang tempat dan rasa makanan di warung atau restoran tersebut. Kebetulan istri dan anak saya penasaran dengan warung atau resto "Ayam Geprek Mbok Judes" yang terdapat tak jauh dari rumah. 



Setelah capek dan lapar seharian jalan jalan ke hutan Bambu Keputih dan mengambil handphone istri yang di service di Plaza Marina. Akhirnya kita sepakat untuk mencoba mampir makan siang di warung tujuan kami tersebut di daerah Driyorejo walaupun ada yang lebih dekat di daerah Kemangsren Krian. 

Sesampai di depan rumah makan tersebut situasi tak seberapa ramai pengunjung. Saya sempatkan foto foto sebentar lay out resto ini,  keunikan segera tertangkap di kamera HP saya,  gambar-gambar mbok Judes yang lucu dan menggemaskan ditambah slogan slogan dengan bahasa Jawa Timuran tergantung di temboknya. 





Di area depan terdapat parkir motor dan mobil yang cukup luas, kemudian beberapa meja makan, meja kasir dan meja geprek dimana terdapat tempat ambil makanan berupa nasi dan sambal. Sedangkan di belakang ada area makan lesehan yang juga cukup luas yang mampu menampung dua puluhan pengunjung. 

Pertama kita memesan terlebih dahulu menu dan langsung membayar di kasir serta menyebutkan nama kita,  yang unik setelah menunggu beberapa saat nama kita akan dipanggil untuk menuju meja geprek dimana terdapat makanan pesanan kita. Kita bebas mengambil jumlah nasi dan sambal yang kita inginkan. 

Tak berapa lama akhirnya nama istri saya dipanggil untuk menuju meja geprek mengambil menu pesanan kita yakni gurami kremes,  ayam goreng kremes dan bebek bakar. Serta minuman pesanan yakni es jeruk dan es teh,  lucunya es jeruk yang disajikan adalah minuman sachet cepat saji. 





Segera saya incip ayam kremes milik anak saya, rasa kremesnya lumayan namun rasa daging ayamnya biasa saja dan nyaris tak berasa gurih, beralih pada gurame kremesnya. Ikan gurame kecil digoreng garing dagingnya terlalu kering dan juga sama seperti ayam bumbunya tak terasa. 


Kembali ke menu yang saya pesan yakni bebek bakar,  daging bebeknya agak aneh dan hampir bukan seperti daging bebek dibumbu rujak kemudian dibakar. Rasanya sangat standard sekali menurut lidah saya yang sering berwisata kuliner ke banyak tempat. Banyak orang yang makan ke resto tersebut memilih berselfie ria dengan background resto yang memang unik dan menarik.



Namun terlepas dari itu yang menjadi perhatian saya adalah tempat ini adalah warung makan dan bukan tempat wisata untuk sekedar berfoto foto.  Jika pengelola lepas perhatian akan hal ini dan melupakan masalah rasa maka lambat laun warung makan ini akan ditinggalkan penghuninya. Sekali lagi restoran, warung makan dan depot adalah tempat menjual makanan dimana rasa adalah segalanya bagi pengunjung.

"Tahu Campur" Kuliner Khas Surabaya yang Mulai Tersisih

Pedagang Tahu Campur dan gerobak dorongnya
Di wilayah Surabaya dan sekitarnya makanan yang satu ini mungkin masih bisa ditemukan namun keberadaannya kini mulai tersisih dan tergerus jaman. Ya, salah satu kuliner yang menjadi ciri khas kota Pahlawan ini diberi nama tahu campur

Makanan ini berbahan baku atau terbuat dari, gorengan mirip combro terbuat dari singkong, tahu goreng diiris tipis,  mie kuning, toge panjang, selada air, dan irisan daging sapi yang terbalut tulang muda, krupuk,  serta bumbu khas dengan campuran petis udang.

Dahulu saat Surabaya masih di tahun 80-an di kala saya masih berusia 7 tahunan pedagang tahu campur masih menjajakan dagangannya dengan dipinggul.  

Menggunakan bambu untuk memikul dua bakul besar,  dimana satu berisi kompor tanah liat berbahan baku arang dan satunya adalah berisi piring serta perlengkapan dan bahan baku lainnya.  


Pedagang mulai menjajakan tahu campur berkeliling dari kampung ke kampung di Surabaya bagian Utara yang saat itu masih terpencil. Belum banyak rumah seperti sekarang,  suasana masih sangat sepi dan tenang. Hanya dengan berteriak "Pur Campur" dan memukul piring dengan sendok, maka teriakan tersebut akan terdengar dari satu gang ke gang lainnya.

Saya lupa lupa ingat berapa harga sepiring tahu campur saat itu mungkin 200 rupiah di saat harga sekilo beras masih 750 rupiah. Disajikan masih hangat dan tidak lupa minta sambal yang banyak, hmm maka rasa hangat pedasnya akan mengusir dinginnya badan saat musim hujan. 


Kini sepiring tahu campur seharga 10 ribu rupiah. Namun banyak perubahan saya kira dirasanya dan bahan baku yang digunakan terutama di singkong goreng atau jemblem orang Surabaya menyebutnya dan bahan baku daging muda dengan tetelan tulang. Kini kebanyakan daging lemak yang digunakan sebagai bahan baku utamanya. 

Hanya jika saya beruntung saja bisa menemukan kembali penjual tahu campur dengan rasa original, atau memang sengaja datang ke beberapa penjual yang sudah kondang. Seperti salah satunya di daerah dekat Pacar Keling saya lupa nama warung penjualnya. 

Ahh bagi saya makanan atau kuliner khas setiap daerah punya keunikan sendiri yang tak kalah enak dengan masakan modern seperti saat ini. Simak juga kelezatan Semanggi Suroboyo dan Lontong Balap di artikel berikutnya.

Wisata Kota Tua Semarang #Edisi Liburan Tak Harus Mahal#

Salah satu bangunan di kota tua Semarang
Semarang memiliki kawasan Kota Tua atau Lama di sekitar daerah Gereja Blenduk terus mengarah ke Tugu Muda dan stasiun Tawang Poncol. Deretan bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial Belanda berdiri di sepanjang jalanan, ada yang masih terawat dan dipergunakan oleh pihak swasta dan pemerintah kota. Ada yang masih digunakan sebagai gedung perkantoran, restoran atau murni sebagai objek wisata.

Selama 5 tahun ke belakang saya hanya bisa memandang kota Semarang hanya dari dua sisi saja,  yakni dari balik kaca gerbong kereta api dan ketika kereta berhenti sejenak di stasiun Tawang dan Poncol. Namun dengan memandang sejenak bangunan stasiun yang saya lewati  pastinya Semarang memiliki histori atau sejarah yang belum banyak tergali, khususnya bangunan bangunan tua dan bersejarahnya.



Itu saya dapat saat masih menjadi PJKA atau Pulang Jumat Kembali Ahad, istilah yang disematkan kepada orang orang yang setiap Jumat sore atau petang pulang dari daerah tempat bekerja ke rumah atau kampung halaman dimana keluarganya tinggal.

Tak banyak yang bisa saya lihat dari jendela kereta api ataupun saat berada di stasiun stasiun tersebut. Hanya genangan air mirip tambak saat kereta api yang saya naiki berjalan perlahan membelah rel yang hampir sedikit lagi terendam air karena banjir ROB,  atau banjir karena air laut yang sedang pasang.

Gedung perkantoran di kawasan Kota Lama Semarang

Biasanya selepas stasiun Alas Tua dan Jerakah jika dari arah Surabaya atau dari stasiun Kaliwungu jika dari arah Kendal kereta akan berjalan sangat perlahan melewati rel kereta yang hampir tertutup air tersebut. Dalam kurun waktu 5 tahun tersebut hanya dua kali dalam ingatan saya kereta api yang saya naiki mengalami keterlambatan lebih dari 3 jam karena rel yang kebanjiran.

Kantor pos Semarang

Memang sejauh mata memandang ketika kereta memasuki kota Semarang hanya genangan air mirip kolam besar yang ada di pelupuk mata.  Di samping instalasi pembangkit tenaga listrik dan perkampungan kosong yang ditinggal penghuninya karena sudah tak layak huni akibat terendam air.

Enam bulan terakhir saya berkesempatan melihat kota Lumpia ini dari dekat, tidak dari sisi yang sempit selama ini. Dari dekat saya bisa melihat bahwa selain dengan banjir ROB yang terkenal selama ini sering merendam kota terutama di wilayah utara sekitar stasiun dan barat sekitar Genuk dan terminal Terboyo.

Stasiun Semarang Tawang
Semarang terus berbenah,  bus antar moda trans Semarang telah beroperasi sejak beberapa tahun lalu untuk menghubungkan beberapa wilayah di kota. Ojek online pun telah beroperasi dengan armada yang lumayan besar, sehingga memudahkan transportasi wisatawan yang berkunjung.


Lawang Sewu
Gedung-gedung tua di sekitar stasiun Tawang bagi penggemar fotografi adalah tempat yang menarik, poulder atau tempat air berupa kolam besar depan stasiun Tawang menjadi saksi bisu bagaimana Belanda juga berusaha mengatasi genangan air ROB dengan membangun tempat buangan air tersebut.

Di sisi lain kawasan sekitar tugu Muda terdapat bangunan Lawang Sewu yang tersohor terlepas dari unsur mistisnya. Bangunan yang masih kokoh berdiri itu menjadi bukti kekuatan keindahan arsitektur masa lalu, tak pernah sepi pengunjung saat pagi,  sore dan malam hari.


Gereja Blenduk Semarang
Dengan jumlah pintu dan jendela bangunan Lawang Sewu yang konon berjumlah 1000 namun realnya adalah 479 buah bangunan ini menjadi objek yang sangat menarik dan diburu wisatawan.  Arsitektur di dalam dan di luar gedung menyimpan banyak misteri tersembunyi di masa lalu.  Banyak cerita sedih dan mengerikan terjadi di Lawang Sewu saat masa kolonial Belanda. Namun hal tersebut kini berusaha ditepis oleh PT KAI yang menjadikan tempat ini museum kereta api dan warisan sejarah bangsa.

Oke sobat tak ada salahnya sekedar mampir ke Semarang,  dari Jakarta dengan menggunakan kereta api hanya butuh waktu 5-7 jam tergantung kelas kereta api untuk kelas ekonomi anda hanya butuh merogoh kocek sebesar 84 ribu -200 ribu rupiah sampai dengan dari Stasiun Pasar Senen Jakarta ke stasiun Semarang Tawang.  

Turun di stasiun Tawang atau Poncol anda bisa berjalan kaki langsung menelusuri kawasan kota tua yang berada di dekatnya.  Tidak terlalu jauh jaraknya, jika anda capek tinggal pesan saja ojek online untuk mengantar anda ke lokasi yang agak jauh atau kembali ke penginapan.  

Saya berhitung dengan uang kurang dari 500 ribu anda bisa berkeliling Semarang seharian jika anda pintar pintar merancang perjalanan anda dengan menggunakan transportasi kereta ekonomi dan memilih penginapan murah.

Hmmm Pup di Toilet Kereta Api? Kenapa Tidak

Toilet di KA Ekonomi Kertajaya
Sebelum seperti saat ini,  mungkin sekitar 3-4 tahun yang lalu saya juga mungkin mengalami phobia untuk pergi ke toilet kereta api. Bagaimana tidak saat masa kegelapan dunia perkeretaapian toilet kereta tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Saya hafal betul trik oknum oknum penumpang nakal yang dengan sengaja menutup toilet dari dalam agar tidak digunakan penumpang lain dengan tujuan yang sangat "naif" yakni agar dia bisa tidur tepat di selasar depan toilet yang memang lumayan luas.

Ada peraturan tak tertulis saat itu yang bisa dengan mudah dipahami oleh orang orang yang sering naik kereta saat itu,  jika ada tumpukan koran atau karton bekas atau terpal kecil di tempat tempat tertentu maka tempat itu sudah dikuasai dalam tanda kutip.

Entah apa yang ada di benak mereka untuk kepentingan pribadi mengorbankan kepentingan umum,  bahkan maaf untuk kepentingan buang hajat manusia yang tidak mengenal batasan waktu dan tempat.




Toilet di kereta api kelas eksekutif Argo Bromo


Begitu ada orang yang hendak ke kamar mandi maka oknum tersebut dengan nyaman tidur di depan pintu dan berkata,  kamar mandi pintunya rusak dan tidak bisa dibuka. Hmm,  padahal saat itu untuk mencapai toilet di ujung gerbong saat penumpang penuh bukan hal yang mudah. Sering terjadi percekcokan antara oknum dan penumpang yang memang sudah paham dengan tingkah nakal oknum tersebut.

Itu baru hanya satu trik saja,  ada yang lebih sangat kelewatan dan ini benar benar terjadi.  Penumpang nakal dari awal keberangkatan sudah membersihkan toilet, menggelar karton dan tikar plastik untuk kemudian tidur dengan nyenyak didalamnya.  Entah apa yang dipikiran orang-orang tersebut. Yang penting dia nyaman selama perjalanan tanpa menghiraukan orang lain.

Jika pun orang orang pelaku kenakalan tersebut sedang absen dalam perjalanan, maka toilet akan terbuka dan bisa digunakan, namun masalah baru muncul. Bagi anda yang jijik dan suka bersih anda mungkin akan menahan rasa buang hajat anda daripada pergi ke toilet dengan bau pesing level tertinggi dan maaf kotoran yang mengambang di toilet. Air saat itu seringkali habis dan tidak diisi di stasiun persinggahan sehingga orang yang buang air pasti tidak membilas dan menyiram toiletnya sehingga bau tak sedap sudah menjadi langganan penumpang kereta.

Namun saat ini jelas berbeda, perubahan positif sudah berjalan di kereta api dari semua kelas,  baik ekonomi, bisnis dan eksekutif. Toilet selalu terisi air walaupun terkadang habis di mendekati stasiun akhir. Bau pesing tak terlalu keras tercium karena selalu disiram obat oleh petugas kebersihan kereta. Penumpang kereta pun bisa dengan tenang dan nyaman melaksanakan "tugasnya".

Hmm?? Nikmatnya Buah Jambu Biji Lokal

Buah jambu biji lokal milik saya

Tak banyak sekarang orang menanam pohon-pohon buah di depan halaman mereka, hanya satu alasannya yakni tidak tersedianya lahan yang memadai. Bisa dimaklumi memang ketersediaan lahan yang cukup apalagi di kota kota besar membuat orang malas untuk menyisakan sebagaian lahan rumah mereka untuk menanam pohon,  paling banter hanyalah tanaman hias dalam pot. Tidak adanya lagi tanaman tanaman besar dengan akar besar dan menjalar menyebabkan air hujan tidak ada yang menyerap dan menyebabkan genangan air serta banjir.

Lain halnya dengan warga warga di pedesaan atau daerah pinggiran kota dimana lahan untuk pekarangan masih cukup luas untuk ditanami pohon pohon buah.

Saya sendiri hidup di lingkungan perumahan dengan luas rumah dan tanah hanya 105 meter persegi. Untungnya didepan halaman rumah pihak developer menyediakan sedikit lahan bagi tiap rumah untuk bisa ditanami pepohonan penghijauan. Semenjak menempati rumah ini saya sudah menanam pohon mangga manalagi dan gadung masing masing satu pohon. Kini satu pohon tumbuh nesar sedangkan satunya bentet dan anehnya kedua pohon itu tak pernah berbuah dalam kurun waktu 6 tahun terakhir. 


Apa yang salah saya tak tahu,  mungkin jarak tanaman yang terlalu rapat sehingga tanaman kurang nutrisi karena saling berebut. Di samping dua pohon mangga tersebut di area yang sama masih ada pohon belimbing, jambu biji dan sirsak.  Belimbing sering berbuah meskipun sebiji dua biji,  namun pohonnya bentet. Kalau sirsak saya tidak tahu kenapa bisa tumbuh mungkin karena biji yang terjatuh atau terbuang saat saya makan sirsak.  

Yang menjadi perhatian saya adalah pohon jambu biji.  Batang pohon berusia 3 tahun ini tak terlalu besar namun menjulang tinggi dan bercabang banyak. Pohon jambu klutuk atau biji ini tak pernah absen berbuah setiap bulannya walaupun sebiji atau dua biji.  Namun buahnya tak pernah dimakan ulat walaupun terkadang dimakan oleh codot atau kelelawar karena matang di pohon.

Buah dalamnya berwarna merah jambu dengan daging buah kenyal dan kesat serta manis. Terkadang saya memakannya langsung dan jika berbuah agak banyak dibuat juice guava atau jus jambu biji merah. Tak jarang kalau kita keluar kota pohon yang sedang berbuah,  buahnya sudah hilang saat kita kembali. 

Satu lagi manfaat dari pohon jambu biji untuk kesehatan jika terkena diare baik saya atau keluarga, tinggal ambil daun yang masih muda kemudian kunyah kunyah dan telan,  rasanya pahit memang tapi manjur dan efektif sebagai obat diare. Jika untuk obat si kecil,  gerus sampai halus campurkan dengan madu dan air secukupnya lalu minumkan ke sang anak.

Saya lebih menyukai buah lokal walaupun kadang berharga lebih mahal dari buah import.  Rasa buah lokal lebih eksotis dan tidak membosankan seperti buah import yang terlalu banyak pupuk dan obat obatan pengawet. Buah buah lokal seperti rukem,  matoa,  sirsak,  durian,  kecapi, duwet atau juwet adalah buah buah dengan rasa yang enak dan jarang sekali dijumpai sekarang kecuali durian mungkin.

Ah,  andaikata saya punya lahan lebih untuk bercocok tanam buah buahan lokal tersebut.

Pencari Kroto "Telur Semut Rangrang Makanan Burung"

Foto pencari kroto atau telur semut rangrang

Secara tak sengaja kemarin di rumah mertua saya bertemu dengan seseorang yang memiliki profesi agak unik. Entah pekerjaan itu dilakoninya sebagai sambilan atau pekerjaan tetap saya kurang tahu. Saya hanya mengamati saja apa yang dilakukannya tanpa berusaha mengadakan tanya jawab atau interview karena takut mengganggu konsentrasi kerjanya. 

Sebenarnya dari alat yang dia pegang orang sudah bisa menduga apa profesinya.  Berbekal galah bambu atau tongkat panjang sekitar 8 meter dan diatasnya diberi semacam saringan dari kain, saya dari awal bisa menebak bahwa orang ini hendak mencari sarang semut rangrang atau semut merah besar untuk mengambil telurnya dimana orang sering menyebutnya dengan nama kroto.  Ya telur semut dengan bentuk mirip buliran beras berwarna putih namun berbobot ringan tersebut yang menjadi buruannya.  

Kroto atau telur semut tersebut adalah makanan favorit bagi burung kicau. Menjadi buruan bagi para penggemar burung tentunya membuat pangsa pasar kroto masih terbuka luas dan nyaris tidak pernah sepi atau menurun.  Begitu juga dengan harga kroto yang stabil di kisaran 150-200 ribu rupiah per kilogram jika dijual di kota kota besar macam Jakarta, Surabaya, Semarang,  dll.  Mungkin saja profesi ini bukan hanya sambilan bagi si bapak tersebut melainkan profesi utamanya jika menilik harga tinggi dari telur semut itu maka dari uang yang bisa dia dapat tentunya mencukupi untuk kebutuhan hidup sehari hari. 


Akan tetapi yang menjadi masalah utamanya adalah ketersedian kroto di alam bisa jadi habis atau menjadi langka jika diambil terus menerus dan tidak terkendali.  Beberapa orang mencoba menternakkan semut merah ini untuk bisa mengambil hasilnya secara kontinyu tanpa harus mengganggu keberadaannya di alam. 

Biasanya sarang semut ini terdapat banyak di pohon seperti pohon mangga, akasia,  sukun,  dll. Namun untuk bisa mengenali dan melihatnya di balik rimbunan daun yang berada di ketinggian dibutuhkan ketajaman mata dan kelihaian. Belum lagi kelihaian untuk mengambil kroto tersebut dari sarangnya tanpa harus mematahkan dan merusak sarangnya tentu saja bukan hal yang mudah. 


Beberapa detik saja galah panjang tersebut dengan mudah berpindah dari satu cabang pohon ke cabang lainnya,  dengan sedikit sentuhan dan gogrokan di sarang maka telur semut tersebut berjatuhan dari tempatnya berpindah ke tempat atau wadah di atas galah tersebut. Hmmm, pekerjaan yang kelihatan sepele namun membutuhkan konsentrasi dan pengalaman untuk melakukannya. 

Hm sebuah profesi yang unik dan mungkin hanya terdapat di Indonesia.

Tanaman Cocor Bebek "Tumbuhan dengan Nama Unik"

Tanaman Cocor Bebek

Nama tumbuhan satu ini memang lucu namun jika kita tilik dari bentuknya tidak salah memang nama itu disematkan pada tumbuhan daun ini.  Daun-daun pada tumbuhan ini berbentuk mirip cocor, congor atau mulut bebek. Di sisi daunnya terdapat calon tumbuhan baru,  inilah yang dinamakan perkembangbiakan secara tunas adventik atau tunas muda. Dimana tunas daun muda akan tumbuh di sisi daun dan kemudian jika daun menjuntai ke tanah maka tunas tunas baru yang jatuh ke tanah tersebut akan tumbuh menjadi tumbuhan baru. 



Susah sekali menjumpai tumbuhan ini sekarang, kebetulan saya masih beruntung menemukannya di rumah mertua di desa.  Tumbuhan ini bisa dengan cepat sekali berkembang biak baik pada kondisi panas maupun dingin. Tidak ada perlakuan atau perawatan khusus untuk memelihara tumbuhan ini. Tidak ada yang istimewa dari tumbuhan ini kecuali cara berkembang biaknya. 


Namun seperti halnya tanaman lainnya cocor bebek memiliki beberapa manfaat untuk pengobatan seperti halnya: 
1. Obat wasir
2. Keseleo
3. Radang lambung
4. Obat bisul
5. Obat anti nyamuk dll,  untuk cara pengolahan tanaman ini supaya bisa dijadikan obat anda bisa membaca dan mencari informasinya di internet.

Namun perlu dicatat jika kita pencinta tumbuhan layak untuk melestarikannya siapa tahu tumbuhan ini menjadi langka di masa akan datang. 

Naik Ojek dari Terminal Bungurasih ke Bandara Juanda Terminal 2

Tarif GOJEK dari terminal Bungurasih ke Bandara Juanda

Terburu waktu karena bus yang saya naiki dari Bypass Krian stag di seputar daerah Kletek karena macet dan jalan lurus ke arah Medaeng ditutup sehingga kini bus-bus yang mengarah ke terminal Bungurasih harus memutar ke bundaran Waru terlebih dahulu. 


Akhirnya bus merapat di Terminal Bungurasih kurang lebih jam 7 pagi.  Di saat jam sibuk tersebut apalagi di awal pekan jika saya tetap memaksa naik bus DAMRI ke bandara Juanda bisa saja saya akan terlambat untuk check in pesawat. Walaupun sebenarnya waktu tempuh dari Terminal Bungurasih ke Terminal 2 Bandara Juanda jika dalam kondisi normal adalah 20 menit, sedangkan ke Terminal 1 sekitar 30 menit.
Ruko depan Gudang Garam di Medaeng

Saya putuskan untuk turun di parkir pintu masuk terminal Purabaya. Saya sempatkan membeli sebungkus rokok di warung sambil membuka aplikasi GoJek, setelah berputar putar sebentar mencari driver terdekat akhirnya proses booking ojek online saya pun berhasil. Sengaja saya tulis disitu tunggu di seberang kantor Gudang Garam di dekat ruko. Karena jika memesan di depan terminal biasanya akan bersinggungan dengan ojek pangkalan sekitar. 
[Updated terakhir ruko di depan Gudang Garam tempat mangkal driver ojek online seperti Gojek dan Uber kini dipenuhi oleh ojek pangkalan, tempat penjemputan pindah ke pintu keluar bus dalam kota berjarak 200 meter dari lokasi semula]

Beberapa saat kemudian panggilan masuk ke handphone saya dari driver GoJek menanyakan posisi dimana sekarang.  Saya menjawab di warung dekat pintu masuk,  dia kemudian menyuruh saya bergeser ke ruko depan gudang garam.

Lima detik celingukan sendiri seseorang menyapa saya dan menanyakan nama. Rupanya driver ini tidak memakai atribut GoJek nya. Saya tak pernah ambil pusing akan hal itu,  segera saya ambil helm yang diberikan dan wessss.....meluncurlah ke bandara. 

Di sisa perjalanan saya banyak bertanya tentang ramai atau tidak order GOJEK nya. Dia menjawab, jika hari Senin pagi hari seperti saat ini ramai Pak,  namun setelah siang cenderung sepi.  Begitu juga dengan penghasilan sebagai ojek online di hari lainnya. Untuk memperoleh 10 point saja susah apalagi mengejar bonus dari Gojek sebesar 100 ribu rupiah dengan mengumpulkan 20 point, satu hal yang hampir tidak masuk akal katanya. Dengan anggota driver Gojek yang mencapai 20 ribu orang untuk wilayah Surabaya, Gresik dan Sidoarjo persaingan menjadi semakin ketat.

Lima belas menit berlalu Terminal 2 bandara Juanda sudah kelihatan di depan mata,  sesampainya di depan gate keberangkatan saya turun,  tarif gojek dari terminal Bungurasih ke Juanda terminal 2 sebesar 17 ribu rupiah untuk parkir masuk motor saya kurang tahu mungkin 3 ribu rupiah untuk satu jam pertama. Saya berikan uang beserta tips sambil berujar terima kasih.

Pesona Rindangnya Hutan Bambu Keputih atau Taman Sakura Surabaya

Hutan Bambu Keputih Surabaya

Beberapa kali melihat di internet dan review Google Maps mengenai tempat wisata baru di Surabaya ini yakni Hutan Bambu Keputih membuat saya penasaran ingin melihat sendiri keberadaannya. Letaknya tak jauh dari kampus saya dulu kampus biru ITS, dekat dengan bekas TPA Keputih Sukolilo. Kabarnya taman ini dibangun diatas TPA Keputih yang telah diuruk dan diubah menjadi taman cantik yang lumayan luas.

Saya sempat agak bingung karena diarahkan oleh Maps lewat jalan Medokan Semampir, setelah saya melewati jalan yang mengarah ke Rungkut, dibelokkan ke perumahan Nginden Intan, sebenarnya saya bisa saja lurus untuk kemudian bertemu dengan jalan Soekarno Hatta atau Surabaya Outer Ring Road.



Melewati jalanan sempit dan harus waspada dengan mobil dari arah depan, akhirnya saya sampai di wilayah Medokan Semampir dan tembus ke TPA Sukolilo setelah itu menjumpai terminal angkutan Keputih dan tepat di sebelahnya adalah gang menuju lokasi hutan bambu tersebut. Masuk tak jauh dari depan gang kira-kira 100 meter terdapat papan petunjuk kecil ke arah kanan bertuliskan Taman Sakura.

Wahana bermain untuk anak anak

Kanopi rimbun

Sebenarnya lokasi ini dengan mudah dicapai dari jalan Arief Rahman Hakim atau di belakang kampus ITS, atau jalan di deretan kampus-kampus seperti ITATS, UNIPRA dan UPB atau dari Asrama Haji Sukolilo berbelok ke kiri. Kemudian lurus mentok dan kemudian belok ke kiri ke arah TPA Keputih, dan sebelum Terminal Keputih ada gang di sebelahnya. Nah, jalanan menuju lokasi ada di gang tersebut.

Jalanan parkir untuk mobil dan motor agak sedikit naik, luas area parkir tidak terlalu banyak menampung mobil, paling sekitar 15 mobil. Sedangkan untuk sepeda motor terdapat dua lokasi parkir. Lokasi hutan bambu sendiri ada dua di sebelah kiri dan kanan jalan. Oh ya, tiket masuk ke Hutan Bambu Keputih ini adalah GRATIS alias gak bayar cuman bayar parkir motor 2 ribu rupiah dan mobil 5 ribu rupiah.

Parkir mobil di hutan bambu Keputih

Dari jalan utama nampak deretan pohon bambu di kanan dan kiri jalan, belum nampak istimewanya seperti yang diposting orang orang selama ini. Namun begitu memasuki lokasi, Nampak di tengah tengah jalan yang membelah rimbunan puluhan pohon bambu tersebut membentuk sebuah kanopi yang rindang dan sejuk serta view yang bagus untuk diabadikan.

Nampak aktifitas selfie dan foto foto dilakukan pengunjung, sayang karena beberapa hari Surabaya dan sekitarnya didera hujan, jalanan di tengah deretan pepohonan bambu tersebut agak becek. Ditambah lagi saat kesana sudah hampir tengah hari, sehingga sinar matahari agak mengganggu kamera HP untuk mengambil momen momen istimewa di tempat itu.


Setelah puas mengambil beberapa kali jepretan foto di pepohonan tersebut, saya beralih ke taman yang ada di posisi sebelah atas. Tidak ada keistimewaan dari taman ini, selayaknya taman taman lain, ada wahana jogging, permainan anak anak, dan adanya air mancur taman di sisi sebelah kiri. Nampak kondisi taman yang bersih dan terawat, sayang sekali banyak tercium pupup kucing di sana sini xixixixi.


Saat itu ada acara reuni yang diadakan sekelompok anak SMA entah darimana, namun yang perlu menjadi perhatian anda bahwa tempat ini panas di siang hari apalagi di lokasi taman bermain. Jadi sempatkan datang saat pagi dan sore hari untuk mendapatkan suasana yang nyaman.

Overall saya puas datang ke hutan bambu di wilayah Keputih Sukolilo ini, cukup dengan membayar uang parkir sebesar lima ribu rupiah saja kita sudah dapatkan momen momen istimewa bersama keluarga tercinta.

Taman Cantik di Krian "Taman Abhirupa"


Lokomotif bekas di Taman Abhirupa

Sejak bermukim lebih dari 6 tahun yang lalu di Krian,  tidak banyak perubahan terjadi di wilayah yang masih bagian dari kabupaten Sidoarjo. Entah terlupakan atau sengaja dilupakan oleh para pejabatnya, pembangunan di Krian sepertinya jalan di tempat,  hampir tidak ada fasilitas umum baru terbangun di tempat ini. Padahal banyak sekali potensi di Krian yang bisa digali dan dimanfaatkan untuk menunjang ekonomi kerakyatan. 

Pasar Baru Krian tempat untuk menampung limpahan pedagang kaki lima yang biasa berdagang di sepanjang jalan utama kota Krian hanya itu saja yang kelihatan. Namun jika anda lebih menilik ke dalam sebenarnya memprihatinkan, pasar baru tersebut nampak sepi pedagang.

Banyak lapak lapak kosong terutama di lantai 2 bangunan pasar yang mulai rapuh karena jarang ditempati. Hanya di emperan toko dan lantai pertama saja yang kelihatan bergeliat, itupun hanya ditempati pedagang makanan,  dan sayur dan buah buahan. Hmm sebagai orang awam saya bisa mencium ada ketidakberesan dalam pengelolaan pasar baru ini. Semoga saja dalam pembangunannya bukan "Uang Rakyat" yang dipakai melainkan dari rekanan Pemkab Sidoarjo.
Pasar Baru Krian terletak persis di seberang Taman Abhirupa
Suasana dalam Pasar Baru Krian, hampir semua lapak dilantai dua kosong

Di malam hari pasar baru tersebut dijadikan tempat atau area bermain anak anak seperti mobil remote,  odong odong berlampu dan skate board. Ada juga lapak yang dimanfaatkan sebagai warkop dan kafe remang remang yang tidak jelas apa jualannya dengan lampu warna warni dan suara musik yang memekakkan telinga. 

Beralih ke bahasan utama,  rupanya pemerintah Sidoarjo dan kecamatan Krian khususnya berhasil mengubah RTH atau Ruang Terbuka Hijau bekas dari Pasar Sapi atau Pasar Kliwon Krian menjadi sebuah taman yang asri dan menarik.  Taman tersebut diberi nama Taman Abhirupa.  



Berbagai macam arena bermain untuk anak
Lokasi taman ini dulunya adalah tempat transaksi jual beli hewan ternak seperti sapi dan kambing di pagi hari saat hari pasaran tertentu, namun jika di malam hari dijadikan tempat prostitusi terselubung limpahan dari daerah belakang stasiun Krian yang berjarak hanya 300 meter. 

Kini taman tersebut ramai dikunjungi warga Krian di saat akhir pekan baik pagi, siang dan malam hari. Ada beberapa wahana permainan anak ditempat tersebut sayang karena kurang pemeliharaan dan kesadaran pengunjung banyak yang telah rusak. Yang paling mencolok adanya satu gerbong mini kereta api yang diletakkan persis di depan taman, jogging track dan tempat bermain skate board dan sepatu roda adalah yang paling dicari anak anak saat ke tempat ini. 



Saya beberapa kali ke taman ini mengantar si bungsu bermain di pasar "senggol" yang ada di depan taman saat sore hari,  fasilitas taman berupa toilet dan wastafel nampak tak terurus,  toilet yang merupakan fasilitas umum juga tidak GRATIS alias bayar,  penunggu dengan senyum masam dan kotak lusuh ada di depan kamar mandi,  begitu juga parkir mobil dan motor,  saat siang, pagi dan sore parkir di taman ini masih gratis tapi saat malam hari ada juru parkir yang menunggu dan menarik karcis parkir. 

Toilet yang merupakan fasilitas umum tidak dikelola dengan baik
Entah lari kemana duit parkir ini,  tidak ada karcis resmi untuk parkir disini. Pastinya uang parkir ini lari ke oknum yang saya tidak tahu siapa dan kemana arah penggunaannya.  Kalau uang hasil parkir untuk perawatan dan pemeliharaan taman saya tidak keberatan namun kita sudah mahfum bahwa parkir adalah lahan "basah" yang bisa membuat gendut perut pengelolanya. Ah sudah biarkan saja. 

Dengan adanya taman ini paling tidak warga Krian bisa memiliki satu tempat hiburan murah meriah dengan keluarga daripada harus jauh jauh pergi ke alun alun kota Sidoarjo. Tinggal kesadaran kita selaku warga untuk bisa menjaga fasilitas umum dengan tidak merusak dan menyalahgunakannya. 

Artikel Unggulan

SEPINYA ORDER GOJEK "INIKAH AKHIR MIMPI MANIS OJEK ONLINE"

Tak terasa sudah lebih dari enam tahun Gojek moda transportasi berbasis aplikasi menemani keseharian masyarakat Indonesia. Terobosan fen...

DMCA

DMCA