Skip to main content

Artikel Unggulan

Penumpang Julit...... Bawa Kabur Selimut Bus EKA

Imbas Konversi Energi dari Minyak Tanah ke Elpiji

Pawon, alat masak tradisional dengan bahan bakar kayu bakar dan ranting pohon

Mertua saya bisa dibilang ndeso, di saat saat awal penggunaan kompor gas atau elpiji beliau sangat khawatir dan sampai sampai tidak berani menyalakan kompor dan tabung elpiji 3 kg pemberian gratis dari pemerintah.

Mungkin seperti kebanyakan orang dan masyarakat lainnya, konversi energi ini hanya sekedar perubahan pola penggunaan saja namun tidak sedikit pula yang belum siap menerimanya. Terbiasa menggunakan kompor minyak, membeli dan mengisi minyak ke dalam kompor kemudian tiba tiba harus berganti menggunakan kompor dengan tabung gas. Apalagi di beberapa daerah banyak kejadian kebakaran akibat kelalaian pengguna serta akibat bocornya tabung gas membuat masyarakat terutama di daerah pedesaan takut dan was was.

Hal ini juga dialami mertua saya, beliau hanya menggunakan kompor gas untuk memasak air, menggoreng ikan, dan menghangatkan sayur. Sedangkan untuk menanak nasi dan masak besar lainnya tetap menggunakan pawon atau kompor tradisional dari tanah liat berbentuk persegi dengan bahan bakar utama adalah kayu bakar. Kayu bakar ini diperoleh secara gratis karena hanya tinggal mencari di ladang serta belakang rumah bekas ranting pohon yang patah serta kulit luar jagung sebagai pemantik apinya.

Untuk memasak nasi atau masak besar lainnya dibutuhkan waktu yang agak lama, jadi dengan menggunakan elpiji akan menghamburkan uang. Namun mengkombinasikannya dengan alat masak tradisional dan bahan bakar alternatif yang didapat dari alam sekitar masyarakat desa seperti mertua saya bisa menghemat pengeluaran bulanannya. 

Kearifan seperti ini tidak bisa kita temukan di masyarakat kita, karena tentu saja tidak tersedianya alat masak.tradisional tersebut dan.tentu saja bahan baku energi alternatif tersebut yang berupa kayu bakar.

Comments

Popular posts from this blog

Penumpang Julit...... Bawa Kabur Selimut Bus EKA

Selimut fasilitas bus EKA Menyambung artikel sebelumnya yakni trip report naik bus EKA dari Solo ke Purbalingga di akhir perjalanan ketika bus sudah memasuki wilayah kabupaten Purbalingga kondektur mulai membersihkan kursi dan merapikan kembali selimut selimut yang disediakan khusus bagi penumpang.  Setahu saya hanya armada bus EKA tertentu saja yang dilengkapi dengan fasilitas tambahan selimut. Selimut yang disediakan menurut saya cukup bagus dan menarik. Dengan warna menarik dan bahan lembut dan hangat tentu memancing "gairah nakal" tersendiri bagi oknum penumpang.  Ketika kondektur telah sampai di kursi bagian depan dia pun berkata kepada sang sopir. Pak selimute ilang siji maneh! Pak selimutnya hilang lagi satu. Kemudian saat kondektur kembali ke kursinya mulai terdengar percakapan mereka berdua mengenai hilangnya selimut tersebut. Sang kondektur sambar atau mengeluh ini adalah selimut kedua yang hilang dalam kurun satu bulan terakhir. Harga satu selimut itu lu

NAIK ANGKOT APA YA??? DARI STASIUN GUBENG KE TERMINAL BUNGURASIH

Stasiun Surabaya Gubeng Baru Bagi anda yang pertama kali datang ke kota Surabaya dengan menggunakan kereta api, anda harap perhatikan hal ini. Ada dua stasiun besar di Surabaya yakni, Stasiun Gubeng melayani jalur lintas Selatan dan Stasiun Pasar Turi yang melayani jalur lintas Utara.  JALUR LINTAS SELATAN kereta yang mengarah ke Banyuwangi, Malang, Kediri, dan Jakarta (lewat Madiun, Solo dan Jogjakarta), sedangkan  JALUR LINTAS UTARA  (kereta yang mengarah ke Lamongan, Babat, Bojonegoro, dan Jakarta (lewat Semarang).  Sejak tahun 2013 semua kereta api Ekonomi, Bisnis dan Ekskutif berjalan langsung di Stasiun Wonokromo alias tidak berhenti di Wonokromo lagi, jadi sekarang semua kereta api terakhir berhenti di Surabaya Gubeng. Ini jelas agak merepotkan apalagi bagi anda yang ingin melanjutkan perjalanan ke arah Sidoarjo atau ke terminal Bungurasih . Stasiun Surabaya Gubeng Lama Namun perlu anda tahu sebelumnya kenapa ada Stasiun Gubeng Baru dan Stasiun Guben

SMOKING ROOM di bandara Juanda

Smooking room di terminal 1 bandara Juanda  Area merokok di bandara Juanda Surabaya -  Tak mudah sekarang bagi para perokok mencari tempat yang nyaman untuk merokok, apalagi di bandara udara. Kenyataannya memang demikian, sebagai seorang perokok saya juga “Tahu Diri” untuk merokok di tempat yang telah disediakan. Nasib perokok, tambah terjepit karena ruang bebas merokok yang disediakan sangat sempit dan terbatas, padahal jumlah perokok yang berada di ruangan tersebut melebihi kapasitasnya. Kalo sudah demikian saya mesti mengalah daripada bisa “mati berdiri” terpanggang asap rokok hehehehe. Di postingan saya sebelumnya SMOKING ROOM di bandara Soekarno Hatta terminal 1 A, ternyata pihak bandara lebih bijak dengan menyediakan taman di tengah tengah gate sebagai area merokok. Ini tentunya lebih “manusiawi” karena para perokok termasuk saya bisa menikmati “hobby” tersebut dengan nyaman dan tidak tersiksa. Smoking pot di bandara Juanda Lain halnya dengan di bandara Juanda

Archive

Show more