Skip to main content

Artikel Unggulan

Penumpang Julit...... Bawa Kabur Selimut Bus EKA

"DIGOYANG" BUS EKA CEPAT DOUBLE GLASS

Bus EKA Double Glass Terbaru
Setelah beberapa kali melewatkan kesempatan menjajal armada terbaru bus EKA untuk kedua kalinya tadi malam saya berkesempatan naik bus baru tersebut. Simak caper (catatan perjalanan saya dengan bus EKA double glass SHD dari Solo ke Surabaya) dibawah ini.

Beberapa menit sebelumnya saya gagal naik di bus EKA model terbaru jurusan Bumiayu ke Surabaya yang transit di terminal Tirtonadi. Saya pikir lebih baik menunggu bus Sugeng Rahayu SHD namun melihat kenyataan bahwa malam itu penumpang lumayan banyak, saya perhatikan didominasi penumpang yang hendak ke arah Jember dan Banyuwangi.

Maklum hari Jumat bertepatan dengan Idul Qurban atau Lebaran Haji yang bagi kebanyakan orang keturunan Madura Lebaran tersebut hukumnya serasa wajib untuk "TORON" atau pulang kampung.

Bus EKA SHD berhenti di terminal Tirtonadi
Menyia-nyiakan kesempatan pertama, bus tersebut cepat terisi penuh penumpang dan tak lama kemudian berangkat. Sesaat pandangan dan pikiran saya masih melayang hendak menunggu SR SHD namun ternyata di sisi sebelah kanan masuk bus EKA SHD terbaru juga dari arah Magelang. [Jadwal dan Tarif bus EKA terbaru 2019]

Bus tersebut belum masuk di gate antrian, namun begitu penumpang turun ternyata beberapa orang calon penumpang sudah menyerbu naik termasuk saya. Saya beruntung mendapat hot seat, kursi di paling depan sebelah kanan sopir. Penumpang di sebelah saya kebetulan seorang pemuda tanggung, segera tas berisi pakaian saya taruh diatas, namun terlintas juga khawatir seperti sebelumnya yakni ketinggalan tas tersebut hahaha.

Kurang lebih dua belas orang penumpang baru naik dari Tirtonadi. Bus penuh dengan penumpang, kursi tengah dekat sopir pun terisi oleh mahasiswi yang hendak pulkam ke Bojonegoro namun terpaksa lewat Surabaya.

Dapur kemudi bus EKA double glass
Bus tersebut hanya tinggal menunggu jam berangkat saja, bahkan sempat di over take satu bus EKA yang sudah telat jam nya. Kondektur dan sang sopir nampak santai sekali, bus penuh penumpang dengan tujuan hampir kebanyakan ke Surabaya ini berarti uang komisi yang akan didapat lumayan besar tentunya.

Bus akhirnya berangkat kurang lebih jam 1/2 10 malam. Kondisi bus yang relatif baru rupanya meninggalkan ciri khas bus EKA yang selama ini saya rasakan yakni bunyi ciet ciet di suspensi bagian depan. Mesin Hino bekerja lumayan halus, jalanan Solo Sragen yang sepi dilindas cepat dimana speedometer terlihat di angka 100-120 km/jam. Bus ini rupanya memiliki trayek dari Cilacap dan Purwokerto. [Simak Armada Bus EKA terbaru Jetbus 3]



Sempat dua kali menurunkan penumpang di Sragen, akhirnya bus melaju kencang membelah jalanan Sambung Macan dan berhenti sejenak di daerah Mantingan, Jawa Timur tepatnya pondok pesantren Gontor 1 saat sang sopir menurunkan istrinya yang hendak menjenguk anak atau keponakannya santri di pondok tersebut.

Lepas itu saya terlelap sejenak saat kondektur membangunkan penumpang sesaat sebelum bus berhenti di RM Duta 2 Ngawi. Nampak bus yang berangkat terlebih dahulu dari Solo telah berada di tempat parkir. Saya hanya ke toilet sebentar dan cuci muka membuang penat, kebetulan saya tidak menambahkan servis makan saat itu, malas dengan menu yang itu itu saja :-(

Sebatang rokok saya nyalakan membunuh dingin malam itu, kubuka sebutir telor asin yang saya beli di toko restoran itu, minyak keluar dari dalam telor tersebut pertanda "MASIR" atau masak. Sempat saya jepret beberapa bidikan ke arah bus EKA yang sedang parkir. Malas kali malam ini, sebenarnya saya ingin menjepret bodi EKA double glass bikinan karoseri Moridadi Prima itu namun saya tak beringsut, hanya dari kejauhan justru bus EKA lainnya yang saya jepret.

Beberapa menit kemudian sopir naik ke bus yang saya tumpangi dan kondektur berteriak teriak memanggil penumpang untuk cepat naik. Bus melaju ke arah Ngawi kota sebelum akhirnya saya tertidur pulas. Terbangun sebentar di dekat terminal bus Jombang, saya pun terlelap lagi sebelum akhirnya tersadar kembali saat bus memasuki bypass Mojokerto.

Berarti tujuan saya sudah dekat, kondektur sempat terlelap, dan seperti yang sudah sudah daya tahan sopir sudah diambang kritis, lampu tanda dinyalakan, sang sopir saya lihat beberapa kali menggaruk keras kulit kepalanya dan memegang tengkuknya tanda menahan kantuk dan lelah, sang kondektur rupanya terbangun dari tidurnya dan mulai mengajak obrol temannya tersebut. Bus akhirnya melaju stabil untuk kemudian berhenti mengisi solar di SPBU Balongbendo.

Segera saya kirim pesan ke Upik Abu di rumah bahwa bus sudah berhenti di pom bensin tanda saya sudah akan segera sampai di rumah. Rupanya istri saya sudah terjaga malam itu untuk sholat malam, dan mengiayakan akan menjemput saya di depan perumahan Kraton Superblock Bypass Krian.

Lima belas menit berlalu, selesai isi bahan bakar rupanya sang sopir sudah pulih kembali, diinjaknya gas dalam dalam dan membelah jalanan bypass Krian yang sepi malam itu, 2 menit berlalu akhirnya sampai juga saya didepan perumahan. Saya lihat dari seberang nampak si Putih, Upik Abu dan..... Pikpik ah rupanya si bontot terjaga juga malam itu.

Tags:

# Bus EKA double glass
# Bus EKA lewat TOL panjang
# Armada EKA Jetbus 3
# EKA Surabaya Semarang
# Jadwal Bus EKA terbaru

Comments

Popular posts from this blog

Penumpang Julit...... Bawa Kabur Selimut Bus EKA

Selimut fasilitas bus EKA Menyambung artikel sebelumnya yakni trip report naik bus EKA dari Solo ke Purbalingga di akhir perjalanan ketika bus sudah memasuki wilayah kabupaten Purbalingga kondektur mulai membersihkan kursi dan merapikan kembali selimut selimut yang disediakan khusus bagi penumpang.  Setahu saya hanya armada bus EKA tertentu saja yang dilengkapi dengan fasilitas tambahan selimut. Selimut yang disediakan menurut saya cukup bagus dan menarik. Dengan warna menarik dan bahan lembut dan hangat tentu memancing "gairah nakal" tersendiri bagi oknum penumpang.  Ketika kondektur telah sampai di kursi bagian depan dia pun berkata kepada sang sopir. Pak selimute ilang siji maneh! Pak selimutnya hilang lagi satu. Kemudian saat kondektur kembali ke kursinya mulai terdengar percakapan mereka berdua mengenai hilangnya selimut tersebut. Sang kondektur sambar atau mengeluh ini adalah selimut kedua yang hilang dalam kurun satu bulan terakhir. Harga satu selimut itu lu

NAIK ANGKOT APA YA??? DARI STASIUN GUBENG KE TERMINAL BUNGURASIH

Stasiun Surabaya Gubeng Baru Bagi anda yang pertama kali datang ke kota Surabaya dengan menggunakan kereta api, anda harap perhatikan hal ini. Ada dua stasiun besar di Surabaya yakni, Stasiun Gubeng melayani jalur lintas Selatan dan Stasiun Pasar Turi yang melayani jalur lintas Utara.  JALUR LINTAS SELATAN kereta yang mengarah ke Banyuwangi, Malang, Kediri, dan Jakarta (lewat Madiun, Solo dan Jogjakarta), sedangkan  JALUR LINTAS UTARA  (kereta yang mengarah ke Lamongan, Babat, Bojonegoro, dan Jakarta (lewat Semarang).  Sejak tahun 2013 semua kereta api Ekonomi, Bisnis dan Ekskutif berjalan langsung di Stasiun Wonokromo alias tidak berhenti di Wonokromo lagi, jadi sekarang semua kereta api terakhir berhenti di Surabaya Gubeng. Ini jelas agak merepotkan apalagi bagi anda yang ingin melanjutkan perjalanan ke arah Sidoarjo atau ke terminal Bungurasih . Stasiun Surabaya Gubeng Lama Namun perlu anda tahu sebelumnya kenapa ada Stasiun Gubeng Baru dan Stasiun Guben

SMOKING ROOM di bandara Juanda

Smooking room di terminal 1 bandara Juanda  Area merokok di bandara Juanda Surabaya -  Tak mudah sekarang bagi para perokok mencari tempat yang nyaman untuk merokok, apalagi di bandara udara. Kenyataannya memang demikian, sebagai seorang perokok saya juga “Tahu Diri” untuk merokok di tempat yang telah disediakan. Nasib perokok, tambah terjepit karena ruang bebas merokok yang disediakan sangat sempit dan terbatas, padahal jumlah perokok yang berada di ruangan tersebut melebihi kapasitasnya. Kalo sudah demikian saya mesti mengalah daripada bisa “mati berdiri” terpanggang asap rokok hehehehe. Di postingan saya sebelumnya SMOKING ROOM di bandara Soekarno Hatta terminal 1 A, ternyata pihak bandara lebih bijak dengan menyediakan taman di tengah tengah gate sebagai area merokok. Ini tentunya lebih “manusiawi” karena para perokok termasuk saya bisa menikmati “hobby” tersebut dengan nyaman dan tidak tersiksa. Smoking pot di bandara Juanda Lain halnya dengan di bandara Juanda